Edo "Credo" Makarim

Edo sapaan akrabnya, lahir pada tanggal 18 Nopember 1995, pada masa kecilnya ia menjalani terapi okupasi, fisioterapi dan terapi wicara. Untuk meningkatkan kemampuan motorik halusnya, Edo mulai melukis sejak umur 12 tahun dan di bimbing oleh Almarhum Alianto sebagai terapi, dalam bimbingan Kak Toto , ia mengelola Credo Art Studio sebuah sanggar lukis terbuka untuk umum dan mengakomodasi anak-anak berkebutuhan khusus, selain itu ia memiliki usaha coffee shop dengan nama Credo Coffee yang beroperasi di Credo art Space sebuah tempat yang mewadahi kegiatan kegiatan kreatif yang dibinanya.

Sebelum bersama Kak Toto, Edo pernah berkunjung ke Studio deDada, Studio Hanafi, diskusi seni dengan Almarhum Jeihan, belajar membuat patung dari Dolorosa Sinaga di Edwin Galery dan juga mengikuti workshop bersama Rob Pearce.

Selain itu anak kedua dari tiga bersaudara ini adalah kontributor dan tutor di Sekolah Merdeka Belajar Persada di Jatibening — Bekasi, untuk bidang kreatif dan seni. Edo mengikuti LIFE Program yang digagas oleh orang tuanya. LIFE adalah kepanjangan dari Learn, Inspire, Fun dan Experience sebagai bekal bagi kehidupannya kelak, dan modal rintisan untuk Credo Art Studio yang dia bangun di seputar rumah tinggalnya sekarang.

Selain pameran bersama, Edo juga pernah melakukkan pameran tunggal pada tahun 2023 yaitu Tapak Katresnan dengan tema Jejak Cinta Perjalan Edo Makarim di Hadiprama Art Center.

Ada kurang lebih 20 pameran lukisan yang pernah Edo ikuti sebagai pembuktian dirinya kepada dunia seni, diantaranya pada tahun 2023 dia mengikuti pameran Bangkit Anak Bangsa di Museum Kebangkitan Nasional, Spectrum di Hadiprana Art Center lalu pada tahun 2022 ia mengikuti 3 pameran seperti pameran Kebangkitan Kreativitas Anak Indonesia di Museum Kebangkitan, Trough Our Window di Stasiun MRT Jakarta, dan Karya Hebat di Credoo Art Space Jatibening Bekasi.

Selanjutnya pada tahun 2019 ia juga mengikuti pameran seni lukis di beberapa tempat diantaranya Scavenging Stories Studio Hanafi, Daur Hidup – Anugrah Barli di Gedung Sate Bandung dan Bandung Art Month Road to 2020 dan masih banyak lagi karya seni lukisnya di pajang di beberapa pameran.

Kopi di Hari Yang Cerah (100 x 100 cm)

Minuman berwarna hitam pekat ini, menyuguhkan cita rasa yang unik, tidak heran banyak orang yang memfavoritkannya. Di saat kita menyeduh minuman ini, mengaduknya dan menghirup aromanya mampu memberikan ketenangan.Menikmati kopi di lingkungan yang asri sambil melihat bunga kesayangan, merupakan perpaduan yang pas dalam menikmati suasana. Kondisi seperti ini mampu memunculkan ide-ide cemerlang dan membuat kita semakin produktif. Bang Edo melukis “kopi nikmat”, terinspirasi dari rutinitas Sang Ibu yang merupakan seorang pecinta kopi. Bunga anggrek ungu yang terlukis indah, merupakan bunga kesayangan Ibunda. Bunga anggrek mencerminkan makna yang dalam, yang berkisar dari harapan hingga cinta, dan keberhasilan

Hidangan (100 x 100 cm)

Sebuah hidangan tak harus istimewa untuk menyatukan sebuah rasa kebahagiaan. Hidangan akan semakin terasa, tatkala setiap yang terkasih melengkapi dengan hadir sepenuh raga dan rasa.Hidangan yang tersaji diatas taplak bunga-bunga, memiliki ceritanya tersendiri.Bang Edo menuangkan kisahnya pada sebuah kanvas putih yang kini penuh warna warni.Buah-buahan yang tergambar, memiliki rasa yang beraneka. Tiap menggigitnya, akan muncul cita rasa tersendiri bagi siapa saja penikmatnya. Buah anggur adalah buah yang paling Bang Edo sukai. Si kecil ini, mampu membawa Bang Edo menyelami manisnya rasa yang membawa kebahagiaan. Dari belajar mengenai buah-buahan, Bang Edo mengabadikannya dalam lukisan ini.Roti yang tersaji, adalah makanan yang menemani Bang Edo dalam keseharian. Bagi kamu, apa hidangan yang paling istimewa untuk disajikan?

Kampung Naga (100×100)

Bang Edo pertama kali mengenal Kampung Naga dalam kunjungan sekolah, lalu beberapa kali menginap lagi di sana untuk menepi dari hiruk pikuk kota, sambil menikmati kearifan lokal. Teringat jelas dalam benak Bang Edo saat berkunjung ke Kampung adat tersebut yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu,Kabupaten Tasikmalaya – Jawa Barat. Bang Edo menuangkan apa yang disaksikannya secara langsung ke dalam lukisan yang dibuatnya pada tahun 2019. Bang Edo menggambarkan rumah panggung yang terdapat di sana. Dimana rumah tersebut terdiri atas 112 rumah panggung yang jumlahnya pantang ditambah atau dikurangi. Berbahan alami dengan dinding sasag bambu, lantai kayu dan atap ijuk. Guna melestarikan tradisi, masyarakatnya ikhlas tidak tersentuh listrik dan kemewahan, namun selalu menjaga kebersihan lingkungan dan merawat kehijauan dan sumber-sumber alamnya. Sehingga kawasannya terasa segar dan kental tradisi. Di tengah pemukiman yang tersusun rapi berundak itu, ada alun-alun yang dikelilingi rumah para Pemuka Adat dan Pemuka Agama.

Lembah Harau (100×100 cm)

Lembah Harau merupakan salah satu tujuan wisata di Sumatera Barat yang memiliki pemandangan eksotis. Harau memiliki makna kata parau atau serak. Lembah Harau diapit dua bukit cadas terjal dengan ketinggian mencapai 150 meter berupa batu pasir yang terjal berwarna-warni. Sehingga saat berteriak di sana akan menibulkan suara gema. Pertama kali Bang Edo berkunjung ke Lembah Harau saat kegiatan Study Tour Kelas 1 SMA tahun 2013. Saat itu, Bang Edo mencoba sensasi berteriak di Lembah Harau seperti pelancong lainnya. Lembah Harau telah memikat hati Bang Edo yang mendorongnya untuk mengajak anggota keluarga berkunjung kembali ke sanapada tahun 2014. Kenangan indahnya Lembah Harau yang tertancap di lubuk hati Bang Edo ditorehkan ke atas kanvas dengan menggunakan cat akrilik pada tahun 2018. Lukisan ini merupakan salah satu bentuk kecintaan Bang Edo akan tanah leluhurnya yaitu Ranah Minang.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi admin kami (klik me)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *